Ilustrasi Mahasiswi (AI)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Rentetan kisah pilu akibat tekanan ekonomi kembali mengguncang publik. Setelah tragedi siswa SD di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku, kini muncul cerita memilukan lain dari dunia pendidikan.
Seorang mahasiswi di Surabaya terpaksa berurusan dengan hukum setelah nekat mencuri ponsel, bukan untuk gaya hidup, melainkan demi bertahan hidup. Kisah ini terungkap dan dibagikan langsung oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan melalui akun media sosial pribadinya.
Di hadapan Kapolrestabes, mahasiswi tersebut tampak tak kuasa menahan tangis. Ia datang didampingi sang ibu, mengakui penyesalan mendalam atas perbuatannya.
Tak Punya Uang Sama Sekali
Dalam proses mediasi, Kombes Pol Luthfie mempertemukan mahasiswi itu dengan korban pencurian. Kepada polisi, ia mengaku melakukan tindakan tersebut karena benar-benar tidak memiliki uang.
“Terpaksa atau bagaimana sampai mencuri?” tanya Kombes Pol Luthfie.
“Nggak ada uang, Pak,” jawab mahasiswi itu singkat, sambil menangis.
Korban Memilih Berdamai
Alih-alih menuntut hukuman, korban justru memilih jalan kekeluargaan. Keputusan itu membuat suasana haru pecah. Mahasiswi dan ibunya langsung memohon maaf sambil menangis di hadapan korban.
“Iya, kekeluargaan saja Pak,” ujar korban.
Hidup dengan Rp200 Ribu per Bulan
Fakta lain yang terungkap, mahasiswi tersebut hanya menerima uang saku Rp200 ribu per bulan. Jumlah itu harus mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya selama sebulan penuh.
“Rp200 ribu per bulan cukup emang? Gimana caranya?” tanya Kapolrestabes.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4949345/original/036688600_1726886704-upset-asian-couple-sit-couch-living-room.jpg)
