PSN Vs Freeport. (Ilustrasi)
Oleh: Mukhtar Tompo
(Anggota DPR RI 2014-2019)
“Ribuan hektar tanah rusak karena pertambangan, tak akan pernah bisa pulih kembali. Ribuan hektar tanah pertanian berulang terus memberi hasil pada manusia, selalu bisa pulih untuk kembali ditanami.”
Papua dikenal oleh dunia internasional dengan sebutan Guinea Baru atau Nugini. Pernah disebut dengan Irian atau Irian Jaya. Merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland yang terletak di sebelah utara Australia.
Pulau ini terbagi dua wilayah; baratnya merupakan wilayah Indonesia, bagian timurnya masuk negara Papua Nugini. Di Pulau berbentuk burung cendrawasih inilah terletak gunung tertinggi di Indonesia yakni Puncak Jaya (4.884 m). Di Pulau seluas 415.170,52 km2 ini pula nyaris sepanjang daratannya adalah syurga flora dan fauna, salah satu yang terbaik di dunia.
Papua adalah salah satu anugerah geografis terbesar yang dimiliki Indonesia. Daratannya membentang dikelilingi lautan luas, menyimpan hutan tropis, sungai-sungai besar, dan cadangan air serta tanah subur yang sejak ratusan tahun menjadi ruang hidup masyarakat adat. Papua bukan sekadar wilayah administratif di timur Indonesia, melainkan penyangga ekologi, cadangan pangan potensial, dan simbol masa depan kedaulatan bangsa.
Namun sejarah pembangunan Papua menyimpan paradoks yang panjang. Selama puluhan tahun, wajah pembangunan Papua lebih sering dikaitkan dengan pertambangan, bukan dengan pertanian dan pengolahan pangan. Narasi kemajuan dilekatkan pada emas, tembaga, dan mineral, sementara tanah—yang sesungguhnya menjadi sumber kehidupan—kerap dipinggirkan. Akibatnya, ribuan hektare lahan telah berubah secara permanen, ekosistem terganggu, dan luka sosial-ekologis diwariskan lintas generasi.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4949345/original/036688600_1726886704-upset-asian-couple-sit-couch-living-room.jpg)
