Terlalu Dekat Barat atau Iran Sama-sama Berisiko

11 hours ago 1
Ilustrasi perang Iran vs AS-Israel.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Dinamika geopolitik global yang memanas akibat konflik di Timur Tengah ikut menjadi sorotan sejumlah pakar di Indonesia.

Salah satunya datang dari pakar Telematika sekaligus mantan anggota Komisi I DPR RI, Roy Suryo.

Ia mengungkapkan, posisi Indonesia saat ini berada dalam situasi yang cukup sensitif karena berpotensi memainkan peran sebagai mediator.

Namun di saat yang sama juga harus berhati-hati agar tidak dianggap berpihak pada salah satu blok yang sedang berkonflik.

Potensi Indonesia Jadi Mediator

Roy Suryo mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk tampil sebagai penengah dalam konflik di kawasan Timur Tengah.

Namun menurutnya, peluang tersebut juga disertai risiko jika pemerintah keliru membaca dinamika geopolitik yang sedang berkembang.

“Presiden Prabowo Subianto memang berpotensi menjadi mediator konflik Timur Tengah namun ada Risiko jika salah mmbaca situasi,” ujar Roy kepada fajar.co.id, Rabu (11/3/2026).

Lanjut Roy, sikap politik luar negeri Indonesia harus benar-benar diperhitungkan secara matang karena setiap keputusan dapat berdampak luas.

Risiko Jika Terlalu Condong ke Satu Blok

Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terlihat terlalu condong ke salah satu kekuatan besar dunia yang sedang berhadapan dalam konflik tersebut.

“Jika Indonesia terlalu condong ke satu blok, konsekuensinya bisa besar,” sebutnya.

Roy kemudian menjelaskan beberapa kemungkinan dampak yang bisa terjadi jika Indonesia terlalu dekat dengan pihak tertentu.

“Jelasnya jika terlalu dekat Barat maka akan menerima Kritik dari dunia Islam, Tekanan domestik," Roy menuturkan.

Read Entire Article
Relationship |