Risma Niswaty
(Guru Besar Layanan Publik UNM)
FAJAR.CO.ID, MAKASSAR - Langkah tegas dan tergolong berani diambil Pemerintah Kota Makassar, guna menata dan mengembalikan fungsi trotoar serta drainase, menuai banyak dukungan warga.
Mereka menilai kebijakan ini sangat tepat agar wajah kota tertata rapih, dan yang utama trotoar yang selama ini banyak digunakan mendirikan lapak oleh PK5, dapat kembali berfungsi untuk berjalan kaki.
Disisi lain, sebagian pemilik lapak meminta agar pihak pemerintah kota Makassar, memberi solusi tepat dan memberi ruang bagi PK 5 agar keberlangsungan usaha dagangan berjalan seperti biasanya.
Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifudfin, mengungkapkan jika penertiban ini bertujuan menata kesemrawutan kota dari aktivitas pedagang yang menggunakan fasilitas umum. Dimana banyak pedagang kaki lima yang sejak lama menggunakan trotoar dan penutup saluran draibase untuk berjualan dengan mendirikan lapak. Bahkan tidak sedikit pedagang mendirikan bangunan semi permanen yang mengakibatkan akses pejalan kaki tidak lagi punya ruang.
Pemkot Makassar juga menawarkan solusi ke para pedagang yang selama ini menggunakan fasilitas umum.
Kaki Lima: Noda atau Nyawa Kota?
Guru besar Kebijakan Publik Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Risma Niswaty, memberi catatan tersendiri terkait penertiban PK 5.
Berikut ulasan Prof Risma Niswaty.
Makassar, di bawah terik matahari yang tak pernah malu-malu, adalah sebuah kota yang selalu berdegup kencang. Di sela-sela deru mesin yang memburu waktu dan beton-beton yang kian meninggi mencakar langit, terselip sebuah narasi lain yang tak kalah riuh: aroma uap Coto yang mengepul, desis arang pembakaran pisang epe yang beradu dengan angin laut, dan peluh para Daeng yang mengais rezeki di pinggir jalan.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4949345/original/036688600_1726886704-upset-asian-couple-sit-couch-living-room.jpg)


