Tangkapan layar -- Sisa menu MBG yang tidak dimakan siswa terbuang percuma
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pegiat media sosial, Herwin Sudikta, ikut bicara mengenai polemik prioritas anggaran pemerintah antara program MBG dan kepesertaan BPJS PBI bagi masyarakat kurang mampu.
Ia mengatakan, di tengah besarnya anggaran yang digelontorkan untuk MBG, masih banyak penerima manfaat iuran BPJS justru menghadapi penonaktifan dan proses verifikasi ulang saat mereka sedang membutuhkan layanan kesehatan.
Persoalan Mendesak Diabaikan
“Negara ini kadang seperti orang yang beli sepatu baru padahal rumahnya bocor,” ujar Herwin kepada fajar.co.id, Kamis (12/2/2026).
Baginya, program MBG memang dikemas dengan narasi yang menarik dan penuh optimisme.
Namun, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak mengabaikan persoalan mendesak di sektor kesehatan.
“Program MBG digelontorkan besar-besaran. Narasinya indah. Masa depan. Generasi emas. Foto-foto anak pegang nasi kotak,” sebutnya.
Lanjut dia, sesuatu yang miris muncul ketika pada saat yang sama, jutaan penerima manfaat BPJS justru harus berhadapan dengan kebijakan pemangkasan dan verifikasi data.
“Padahal disaat yang bersamaan ada jutaan penerima manfaat iuran BPJS dipangkas, diverifikasi ulang, dipelototi desilnya sambil menahan sakit,” tegasnya.
Ia juga menyinggung fakta di lapangan terkait makanan program MBG yang disebut-sebut terbuang percuma karena tidak dimakan atau tidak dihabiskan oleh penerima manfaat.
Sementara di sisi lain banyak masyarakat harus membayar mahal untuk berobat bahkan mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan pelayanan kesehatan.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4949345/original/036688600_1726886704-upset-asian-couple-sit-couch-living-room.jpg)


