Kamar Rahasia di Akhir Ramadhan

5 hours ago 4
Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Penulis : Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Bayangkan sebuah kamar yang sunyi. Ada dua pintu besar yang saling berhadapan.
Pintu pertama terbuka lebar. Dari celahnya memancar cahaya yang lembut namun cerah. Udaranya segar membawa aroma harapan dan keselamatan. Damai. Siapa pun yang memandangnya tahu bahwa pintu itu menuju tempat yang dijanjikan bagi jiwa-jiwa yang setia. Pintu menuju surga.

Di sebelahnya berdiri pintu lain. Berbeda sama sekali. Pintu itu tertutup rapat. Besinya tebal, kuncinya besar, dan sebuah gembok kokoh menggantung di sana. Tidak ada celah sedikit pun. Seolah-olah pintu itu sengaja disegel agar tidak ada siapa pun yang mendekatinya.
Itulah pintu menuju neraka.

Ia tidak sekadar tertutup, tetapi seperti dinonaktifkan dari kehidupan manusia yang berada di ruangan itu.
Namun pemandangan yang paling mengejutkan justru ada di sisi dinding kamar.

Di sana terdapat sebuah ruang kecil yang dikelilingi jeruji besi. Jerujinya kuat, berlapis, seperti penjara yang tidak mungkin ditembus. Di dalam ruang itu ada makhluk yang selama berabad-abad dikenal sebagai penggoda manusia. Dialah Iblis.

Kali ini ia tidak bebas berkeliaran. Ia dibelenggu. Tangan dan kakinya terikat. Kekuatannya seakan dilucuti oleh keputusan langit. Ia hanya bisa melihat. Ia tidak bisa lagi menjerumuskan. Ia tidak bisa lagi membisikkan godaan seperti biasanya.

Kamar itu adalah gambaran rahasia dari bulan yang mulia. Ramadhan.
Tidak semua orang bisa memasuki dan berada di kamar itu. Hanya mereka yang dipanggil dengan undangan khusus berlabel :  "orang-orang beriman". Mereka yang memasuki bulan suci dengan puasa, doa, dan harapan akan perubahan.

Read Entire Article
Relationship |