Jika Perang Berlarut, Ekonomi RI Bisa Terpukul Lebih Parah dari Pandemi

4 hours ago 1

FAJAR.CO.ID - Mantan anggota DPR RI Didik Mukrianto memperingatkan bahwa potensi resesi ekonomi Indonesia bisa menjadi kenyataan jika konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus berlarut dan meluas. Risiko ini terutama muncul akibat kenaikan harga minyak dunia yang signifikan dan dampak berantai terhadap perekonomian nasional.

Didik menjelaskan bahwa harga minyak Brent Crude Oil sempat melonjak mendekati US$93 per barel pada awal Maret 2026, jauh di atas asumsi APBN Indonesia yang hanya sekitar US$70 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi konflik yang mengancam jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama sekitar 20-30 persen pasokan minyak dunia.

"Harga minyak Brent sempat melonjak hingga mendekati US$93 per barel pada awal Maret, meski fluktuatif di kisaran US$80–92, jauh di atas asumsi APBN 2026," katanya.

Ancaman Gangguan Pasokan dan Dampaknya pada APBN

Didik menyoroti bahwa jika jalur minyak di Selat Hormuz terganggu, harga minyak berpotensi melonjak hingga US$130–150 per barel dalam skenario eskalasi penuh. Hal ini akan menyebabkan beban subsidi energi membengkak drastis, menambah defisit anggaran hingga ratusan triliun rupiah dan berisiko melampaui batas 3 persen dari PDB.

"Jika harga minyak bertahan di atas US$90–100 atau bahkan tembus US$130–150 dalam skenario eskalasi penuh, beban subsidi energi bisa membengkak drastis," jelasnya.

Setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi APBN diperkirakan menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun hingga Rp10 triliun.

Inflasi, Daya Beli, dan Risiko PHK

Kenaikan harga minyak juga berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang yang akan memicu inflasi berkisar 0,2–0,5 persen atau lebih. Kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional, dengan konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 55 persen PDB Indonesia.

Read Entire Article
Relationship |