Dari Tanah Liat ke Harapan: Kisah Hena Gian Hermana Mengangkat Usaha Genteng Bersama BRI

8 hours ago 3
IST

FAJAR.CO.ID, MAJALENGKA - Di sebuah sudut kampung yang tak pernah benar-benar sepi dari suara denting tanah liat dan deru mesin cetak, usaha genteng milik Hena Gian Hermana tumbuh perlahan namun pasti. Dari halaman rumah yang sederhana, tumpukan genteng berjejer rapi, mengering di bawah terik matahari menjadi saksi perjalanan panjang seorang pelaku usaha kecil yang bertahan di tengah dinamika zaman.

Bagi Gian, genteng bukan sekadar material bangunan. Di balik setiap keping yang dicetak, ada cerita tentang ketekunan, keberanian mengambil risiko, dan keyakinan bahwa usaha tradisional pun bisa berkembang jika dikelola dengan baik.

Dia mengatakan, pabrik genteng yang telah berdiri sejak 1985 ini awalnya lahir sebagai respons atas tingginya permintaan atap genteng pada masa itu. Sementara itu, kapasitas produksi pabrik- pabrik genteng di wilayah Jatiwangi belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.

Sayangnya, permintaan pasar yang tinggi itu terkendala dengan berbagai tantangan seperti perubahan zaman, ketatnya persaingan produk, tingginya biaya produksi, keterbatasan bahan baku, berkurangnya jumlah tenaga kerja, hingga keterbatasan modal.

“Berbicara usaha pabrik genteng, tentunya tidak lepas dari yang namanya pasang surut. Tantangan zaman, persaingan produk, biaya produksi tinggi, bahan baku terbatas, dan berkurangnya jumlah pegawai menjadi faktor yang menyebabkan banyaknya pabrik genteng yang tidak bisa bertahan,” tutur Gian.

Perjalanan usaha Gian mulai berubah ketika ia menjadi nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Akses pembiayaan yang lebih mudah dan terjangkau memberinya ruang untuk memperluas usaha.

Read Entire Article
Relationship |