Dampak Hubungan Toksik pada Tubuh, Stres Kronis, Autoimun, dan Risiko Kematian

18 hours ago 9

ringkasan

  • Hubungan toksik dapat memicu stres emosional berkepanjangan yang bermanifestasi secara fisik.
  • Stres kronis meningkatkan kadar kortisol, menekan sistem kekebalan tubuh, dan memicu peradangan serta penyakit autoimun.
  • Penelitian menunjukkan risiko penyakit autoimun 36% lebih tinggi dan risiko kematian 50% lebih tinggi akibat hubungan yang buruk.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, hubungan yang sulit kerap dikaitkan dengan luka emosional seperti stres, kecemasan, kesedihan, dan kelelahan. Namun satu aspek penting sering luput: tubuh fisik juga menanggung beban ketika seseorang terjebak dalam hubungan toksik yang memicu stres berkepanjangan.

“Prioritas tubuh kita adalah bertahan hidup – bukan berkembang,” demikian ditegaskan dalam laporan The Independent pada 6 Juli 2026.

Pernyataan ini menyoroti cara tubuh memusatkan energi untuk menghadapi ancaman yang dirasakan, termasuk ancaman psikologis. Ketika stres relasional berlangsung lama, sistem saraf mengaktifkan respons lawan-atau-lari—mekanisme protektif purba yang pada awalnya dirancang untuk bahaya fisik—hingga tubuh tetap dalam mode siaga tinggi.

Bagaimana Stres Relasional Mengaktifkan Respons ‘Lawan-atau-Lari’

Stres emosional yang menetap dapat memicu rangkaian reaksi biologis yang seragam dengan ancaman fisik. Saat merasa tidak aman atau terus-menerus berada dalam konflik, tubuh membaca situasi tersebut sebagai bahaya sehingga tombol daruratnya menyala. Inilah yang membuat detak jantung meningkat, napas lebih cepat, hingga fokus tubuh bergeser dari fungsi pemulihan ke survival.

“Mengalami stres kronis karena hubungan yang toksik dapat menjaga tubuh kita dalam kondisi siaga tinggi ini, menyebabkan kadar kortisol tetap tinggi,” jelas MedReport Foundation pada 1 Maret 2025.

Kortisol yang terus meningkat dalam jangka panjang dapat menekan sistem kekebalan, sehingga membuat tubuh lebih rentan sakit. Di saat yang sama, inflamasi sistemik bisa meningkat, dinding usus berisiko mengalami kebocoran (leaky gut), dan keseimbangan hormon terganggu. Kombinasi faktor-faktor ini menggerus kapasitas tubuh untuk pulih secara optimal.

Dalam kondisi tertentu, terutama pada individu yang memiliki kerentanan, kadar kortisol tinggi yang berlangsung lama dapat memicu kekambuhan penyakit autoimun. “Hidup dalam kondisi lawan-atau-lari meningkatkan kortisol, yang dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh yang tertekan, peningkatan peradangan, usus bocor, ketidakseimbangan hormon, dan kekambuhan autoimun,” demikian laporan dari The Independent.

Autoimun hingga Mortalitas: Angka Risiko yang Terlihat di Penelitian

Sejumlah temuan menunjukkan keterkaitan signifikan antara stres berat atau trauma dengan berkembangnya penyakit autoimun. Orang yang mengalami kondisi tersebut tercatat memiliki kemungkinan 36 persen lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit autoimun seperti Rheumatoid arthritis, Lupus, Psoriasis, Hashimoto's, dan Crohn's disease.

Dampak hubungan yang tidak sehat juga tampak pada risiko kematian. Studi pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa relasi yang buruk dapat meningkatkan risiko kematian hingga 50 persen—angka yang setara dengan bahaya merokok 15 batang rokok setiap hari. Data ini memberi gambaran bahwa kualitas hubungan interpersonal dapat berkelindan dengan parameter kesehatan jangka panjang.

Laporan yang sama menautkan kondisi mental dengan respons biologis tubuh melalui jalur sistem saraf, regulasi hormonal, dan kekebalan. Ketika stres kronis hadir dari sumber apa pun, termasuk konflik interpersonal, konsekuensinya dapat menumpuk dan berdampak pada kesejahteraan fisik seiring waktu.

Kisah Becca Scott: Konflik Keluarga, Crohn's, dan Hashimoto's

Artikel The Independent menyoroti kisah Becca Scott sebagai contoh nyata dampak stres relasional terhadap tubuh. Sejak masa kecil di lingkungan keluarga yang penuh konflik, ia mengembangkan Crohn's disease dan Hashimoto's—penyakit tiroid autoimun.

Kondisi tersebut disertai gejala yang dapat mengganggu aktivitas harian, antara lain penambahan berat badan, sensitivitas terhadap dingin, konstipasi, kulit kering, rambut rontok, serta nyeri otot atau sendi. Gejala-gejala ini menggambarkan bagaimana disrupsi imun dan hormonal dapat memengaruhi banyak sistem tubuh sekaligus.

Ketegangan yang muncul dalam hubungan romantisnya di kemudian hari memperburuk kondisi yang sudah ada. Pada dirinya, kelompok faktor risiko—mulai dari riwayat konflik berkepanjangan hingga stres relasional—terakumulasi dan berkontribusi pada perjalanan penyakit.

Suara Pakar dan Pemulihan: Ketahanan Diri di Tengah Hubungan Toksik

Para ahli menekankan pentingnya memperdalam riset untuk memahami lintasan sebab-akibat antara hubungan toksik dan kesehatan fisik. “Perlu ada lebih banyak penelitian yang dilakukan,” kata Wallace-Scott. Ia menambahkan perlunya studi yang lebih baru dengan generasi saat ini, alih-alih semata mengandalkan data lama.

Wallace-Scott juga mengemukakan bahwa penyakit yang dipicu stres bisa jadi merupakan faktor fatal yang lebih “tenang” dalam sebuah hubungan, meski dugaan ini tetap perlu pembuktian lebih lanjut lewat penelitian. Perspektif ini menempatkan stres sebagai variabel kunci yang dapat menyusup hingga ke aspek vital kesehatan.

Sejalan dengan itu, konsep “penyebab yang mempertahankan” (maintaining cause) dalam sebagian pendekatan pengobatan fungsional menyoroti bagaimana stres lingkungan yang terus berlangsung dapat menghambat pemulihan penuh. Bahkan saat intervensi medis atau nutrisi telah dilakukan untuk meredakan gejala, paparan berulang terhadap kritik, konflik, atau ketidakamanan emosional dapat membuat tubuh bertahan dalam mode siaga tinggi sehingga proses penyembuhan melambat.

“Ini tentang menilai seberapa besar hubungan itu, toksisitas itu, stres itu berdampak pada kesehatan mereka, karena ini adalah situasi ayam-dan-telur,” jelas Wallace-Scott.

Ia menambahkan, “Jika seseorang merasa sangat meradang, lelah, dan terganggu, mereka akan merasa terjebak dan lebih bergantung pada pasangannya. Ini tentang mencoba membuat orang tersebut sekuat dan sesehat mungkin sehingga mereka merasa dalam posisi untuk mulai membuat perubahan yang lebih besar dalam hidup mereka.”

Pada akhirnya, kaitan antara kehidupan emosional dan kesehatan fisik bersifat kompleks. Tubuh tidak memisahkan stres psikologis dari fungsi biologisnya—aktivasi sistem saraf, regulasi hormon, dan respons imun saling bertaut erat. Bagi sebagian orang, mengurangi sumber stres kronis—termasuk dari hubungan interpersonal—merupakan bagian penting dari pemulihan, berdampingan dengan perawatan medis dan dukungan gaya hidup.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Vinsensia Dianawanti

    Author

    Vinsensia Dianawanti

 dari Hepburn bangs, lilac makeup, metallic manicure, hingga lace lips dan white waterline. (@chanelofficial @jeanpaulgaultier)

BeautyPalet Paris Couture 2026 Hadirkan Tren Beauty dari Hepburn Bangs hingga Lace Lips

Paris Haute Couture Week 2026 menghadirkan delapan tren beauty: dari Hepburn bangs, lilac makeup, metallic manicure, hingga lace lips dan white waterline.

Popularitas Lisa BLACKPINK dorong penjualan cincin batu gioknya terjual habis (@lalalalisa_m)

FashionCincin Nike Lisa BLACKPINK di Piala Dunia 2026 Seharga Rp8,2 Jutaan Ludes Terjual

Cincin Nike O ThongThai Blue Agate yang dipakai Lisa saat Belgia vs Spanyol jadi viral. Stok ludes dalam hitungan jam, harga resale ikut merangkak naik.

Victoria Beckahm tampil dengan gaya stylish chic dukung Inggris di Piala Dunia 2026 (@davidbeckham)

FashionGaya Quiet Luxury Victoria Beckham di Tribun, Dukung Inggris di Piala Dunia 2026

Victoria Beckham hadir di perempat final Norwegia vs Inggris. Ia memilih atasan satin silver tanpa lengan dan celana putih tailored, aksesori minim, serta riasa

Krisdayanti mengantar Amora Lemos di hari pertama SMA. Gaya monokrom dengan tas Hermès, sementara Amora tampil preppy dengan backpack Kate Spade Rp7,3 juta. (@krisdayantilemos)

FimelaMomGaya Back to School Amora Lemos dengan Tas Rp7,3 Jutaan, Diantar Krisdayanti yang Tampil Elegan

Krisdayanti mengantar Amora Lemos di hari pertama SMA. Gaya monokrom dengan tas Hermès, sementara Amora tampil preppy dengan backpack Kate Spade Rp7,3 juta.

Maternity shoot Shenina Cinnamon dan Angga Yunanda mengusung tema aristokrat Eropa. Sentuhan perhiasan Bvlgari bernilai miliaran rupiah melengkapi tampilannya. (@angga)

FashionNuansa Aristokrat Maternity Shoot Shenina Cinnamon, Dihiasi Bvlgari Miliaran

Maternity shoot Shenina Cinnamon dan Angga Yunanda mengusung tema aristokrat Eropa. Sentuhan perhiasan Bvlgari bernilai miliaran rupiah melengkapi tampilannya.

Read Entire Article
Relationship |