​Mewahnya Belanja BGN di Tengah Ekonomi Sulit, Disindir Tajam Akuntan, Peneliti Justru Diteror Usai Kritik MBG

11 hours ago 3
Pengadaan barang untuk program MBG ramai disorot karena harganya dinilai tidak wajar. (Ilustrasi AI)

FAJAR.CO.ID, ​JAKARTA – Di balik narasi besar pengentasan stunting dan perbaikan sumber daya manusia, sebuah kontradiksi tajam sedang terjadi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN).

​Publik dikejutkan dengan rincian pengadaan barang BGN tahun anggaran 2025-2026 yang dinilai tidak menyentuh substansi piring makan siswa. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat beberapa pos belanja fantastis yang menjadi sorotan tajam:

​Armada Motor Listrik: Pengadaan sekitar 21.000 unit motor listrik bagi Kepala SPPG dengan total anggaran mencapai Rp1,39 triliun. Kebijakan ini dinilai boros dibandingkan memanfaatkan ekosistem transportasi rakyat yang sudah ada.

​Atribut Non-Pangan: Alokasi dana sebesar Rp6,9 miliar hanya untuk pengadaan kaus kaki, ditambah belanja alat makan seperti garpu khusus hingga biaya jasa Event Organizer (EO) untuk seremonial yang nilainya terus membengkak.

​Kontradiksi Prioritas: Di tengah urgensi protein hewani bagi anak, anggaran justru tersedot ke instrumen pendukung yang bersifat administratif dan gaya hidup birokrasi.

​Kontras dengan belanja aset yang masif, operasional di lapangan justru tersendat. Per 25 Maret 2026, tercatat sebanyak 1.528 SPPG di seluruh Indonesia resmi di-suspend atau dihentikan sementara operasionalnya.

​Alasan penangguhan karena BGN menyebut bahwa suspensi dilakukan karena masalah Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan standarisasi kualitas.

​Mengingat satu SPPG rata-rata melayani 3.000 hingga 4.000 siswa, diperkirakan lebih dari 4,5 juta hingga 6 juta siswa kehilangan akses harian terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa suspensi ini.

Read Entire Article
Relationship |