Krisis Selat Hormuz: Inggris Galang 35 Negara, Prancis Desak China Turun Tangan Demi Stabilitas Energi Global

9 hours ago 3

FAJAR.CO.ID - Dunia kini menghadapi ancaman serius terhadap stabilitas energi global akibat krisis yang melanda Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% minyak dunia. Jika jalur ini lumpuh total, dampaknya tidak hanya akan mengguncang pasar energi, tetapi juga bisa memicu krisis ekonomi dan ketegangan geopolitik yang lebih luas.

Inggris Pimpin Koalisi Internasional Bahas Krisis Hormuz

Pada 2 April 2026, pemerintah Inggris mengambil langkah cepat dengan menggelar pertemuan besar yang melibatkan 35 negara. Pertemuan ini bertujuan untuk mengevaluasi dan merumuskan langkah-langkah diplomatik dan politik guna membuka kembali Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik yang melibatkan Iran.

Inggris tidak hanya mengandalkan diplomasi, tapi juga mulai menyiapkan opsi militer sebagai antisipasi jika situasi memburuk. Opsi tersebut mencakup pengawalan kapal tanker minyak, operasi pembersihan ranjau laut, serta perlindungan terhadap ancaman serangan lanjutan.

Prancis Tekan China untuk Ambil Peran Strategis

Sementara itu, Prancis secara terbuka mendesak China agar ikut turun tangan dalam mengamankan jalur strategis tersebut. Kepala Angkatan Laut Prancis, Laksamana Nicolas Vaujour, menegaskan dalam konferensi keamanan di Paris pada 2 April 2026 bahwa keterlibatan China sangat dibutuhkan.

"Kita belum melihat Angkatan Laut China ikut campur untuk membuka kembali selat," katanya.

Vaujour menilai bahwa sebagai salah satu konsumen energi terbesar dunia, China memiliki kepentingan langsung untuk menjaga stabilitas kawasan.

Selat Hormuz: Titik Krisis Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur laut krusial yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur ini, dan negara-negara besar seperti China, Jepang, serta Eropa sangat bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.

Read Entire Article
Relationship |